Menurut Kantor Berita ABNA, sebagaimana yang diberitakan website berita Ashr Iran dengan tema '' Apakah dalam film biografi Mukhtar akan menampikan sosok orang-orang suci atau tidak?'' Bagaimana mungkin serial televisi yang sudah dipersiapkan selama delapan tahun tidak memperhatikan hal-hal khusus semacam itu? Dimana hasil dari usaha ini bertentangan dengan pandangan umum masyarakat maupun syariat agama atau bertentangan dengan keyakinan umum masayarakat.
Pada kelanjutan penjelasan ini ditekankan bahwa apapun yang terjadi pada serial ini dengan detail-detailnya sudah dilakukan musyawarah dengan berbagai pihak baik dinas maupun para ulama dan para ahli sejarah dan hal-hal yang riskan sudah dibahas dan dicari jalan pemecahannya, poin semacam ini tentu tidak dilalaikan begitu saja. Dan sebaiknya media masa yang mengupas hal ini sebelum menyebarkan keraguan tersebut bertanya secara langsung pada humas serial ini dengan demikian diharapkan tidak memunculkan kebingungan ditengah-tengah masyarakat. Pada poin akhir penjelasan humas serial Mukhtar disebutkan, ”Kami berharap hal ini tidak terjadi lagi, walau sebenarnya kemungkinan-kemungkinan seperti ini sudah kami perkirakan sebelumnya, ungkapan yang disampaikan tidak lain hanya untuk mempertanyakan kualitas dari serial biografi Mukhtar.”
Sekarang ini masih tetap pada konsep sebelumnnya, memang ada sebagian permasalahan syar’i yang seolah-olah diremehkan oleh kru pembuat film dan cukup menarik tema yang diangkat media masa Ashr Iran. “Apakah Mukhtar mencerminkan wajah sosok yang disucikan atau tidak?” ditulis bahwa serial berharga Mukhtar pada bagian yang akan datang sesuai dengan perjalanan sejarah dalam serial tersebut tetap ada kaitannya dengan sejarah Imam Husain dan kejadian karbala. Pada bagian ini dimainkan aktor-kator baru agar dampak pada penonton lebih terasa. Mereka memerankan Hadzrat Abbas, Zainab, Ali Akbar dan beberapa orang suci yang lain. Beberapa orang suci seperti Ali Akbar juga ditampilkan dalam film tersebut. Sampai sekarang belum jelas apakah para petugas dari departemen penerangan sudah menanyakan permasalah riskan tersebut pada marji taqlid apa belum. Pada kenyataanya banyak para ulama yang menentang setelah dilakukan pengambilan gambar Abu Fadhl Abbas as.